Banyak yang menganggap orang Kristen sombong karena memiliki keyakinan pasti akan keselamatan 100% di dalam Yesus Kristus.
Sekilas, ini terdengar eksklusif. Bahkan mungkin dianggap arogan.
Namun, apakah benar demikian?
Mari kita lihat lebih dalam.
Namun, mari kita telisik dari sudut pandang ‘kebanggaan’. Jika keselamatan bisa diperoleh melalui usaha manusia—rajin berbuat baik, banyak bersedekah, tekun berdoa, sering ke tanah suci atau melakukan berbagai ritual keagamaan.
Jika surga diraih melalui akumulasi amal baik, sedekah, doa, atau ritual keagamaan, maka di surga nanti kita akan memiliki alasan untuk menyombongkan diri atas usaha kita sendiri.
Di surga nanti, seseorang bisa saja berkata:
“Aku ada di sini karena usahaku. Karena kebaikanku, karena kerajinanku beribadah, karena aku suka bersedekah, karena aku sering ke tanah suci, dan banyak lagi AKU yang lain karena kekuatanku, kebaikanku, kehebatanku, dll”
Bukankah itu membuka ruang untuk kesombongan?
Sebaliknya, Orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus tidak datang kepada Tuhan dengan membawa prestasi, justru datang dengan kerendahan hati yang mendalam. Di hadapan takhta Allah, mereka menyadari & berkata: ‘Sebenarnya aku tidak layak; aku adalah orang berdosa yang najis, hina dan kotor; Tidak ada yang bisa kubanggakan.’.
Namun justru di titik itulah kasih Tuhan bekerja.
Melalui pengorbanan Tuhan Yesus Kristus di kayu salib, manusia ditebus, disucikan, dan dibenarkan—bukan karena usahanya, tetapi karena anugerah, sehingga aku dilayakkan masuk ke dalam kemuliaan-Nya di Surga.
Sehingga di surga, orang percaya tidak berkata,
“Aku berhasil,”
melainkan,
“Semua karena kasih karunia Tuhan.”
Lalu, pertanyaannya menjadi jelas:
Jadi, manakah yang lebih sombong? Seseorang yang merasa mampu membeli surga dengan usahanya sendiri, atau ia yang bersimpuh mengakui keterbatasannya dan sepenuhnya bersandar pada kasih karunia Tuhan?
Keteguhan iman kami bukanlah kesombongan atas diri sendiri, melainkan sebuah pernyataan syukur yang mutlak atas janji Tuhan yang tak pernah gagal.
Dari Janji Manusia ke Janji Ilahi
Dalam kehidupan ini, kita mengenal sebuah janji yang sangat indah dalam pernikahan:
“Sampai maut memisahkan kita.”
Janji ini begitu kuat, namun tetap memiliki batas—yaitu kematian.
Tetapi kasih Kristus melampaui batas itu.
Alkitab berkata dalam Roma 8:38–39:
“…baik maut maupun hidup… tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”
Artinya, hubungan dengan Kristus bukan hanya untuk kehidupan sekarang, tetapi untuk kekekalan. Bahkan maut sekalipun tidak mampu memutuskan ikatan tersebut.
Di sinilah letak kepastian iman Kristen—bukan pada kekuatan manusia untuk setia, tetapi pada kesetiaan Tuhan yang tidak pernah gagal.
Gambaran Pengorbanan: Bayangan Jumat Agung
Jauh sebelum peristiwa penyaliban, Alkitab sudah menubuatkan penderitaan Mesias.
Salah satu gambaran paling jelas terdapat dalam Mazmur 22.
Mazmur ini melukiskan penderitaan yang begitu dalam—ditinggalkan, dihina, tangan dan kaki tertusuk—yang secara luar biasa digenapi dalam peristiwa Jumat Agung saat Tuhan Yesus disalibkan.
Ini menunjukkan bahwa keselamatan bukanlah ide manusia, tetapi rencana Allah sejak semula—yang digenapi melalui pengorbanan Kristus.
Penutup
Jadi, apakah orang Kristen sombong?
Jika dilihat sekilas, mungkin terlihat demikian.
Namun jika dipahami lebih dalam, justru sebaliknya.
Iman Kristen bukan tentang meninggikan diri, tetapi merendahkan diri di hadapan Tuhan—dan mengakui bahwa keselamatan adalah anugerah, bukan hasil usaha.
Bukan “aku hebat,”
melainkan,
“Tuhanlah yang menyelamatkan.”
Referensi Ayat Alkitab
Berikut beberapa ayat Alkitab yang menjamin keselamatan orang yang percaya Tuhan Yesus Kristus & dijamin 100% pasti ke Surga:
Yohanes 3:16 > “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Yohanes 5:24 > “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.”
Yohanes 10:28-29 > “dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.”
Efesus 1:13-14 > “Di dalam Dia kamu juga… dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya…”
1. Kasih Kristus yang Tidak Terpisahkan oleh Maut
Ayat yang paling tepat untuk menggambarkan bahwa maut tidak dapat memisahkan kita dari kasih Kristus adalah Roma 8:38-39:
“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, **tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”
2. Mazmur yang Menggambarkan Jumat Agung
Mazmur yang secara spesifik menubuatkan penderitaan Yesus di kayu salib (Jumat Agung) adalah Mazmur 22. Beberapa poin utamanya meliputi:
- *Mazmur 22:2: *”Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” (Persis seperti ucapan Yesus di kayu salib dalam Matius 27:46).
- Mazmur 22:17-19: Menggambarkan tangan dan kaki yang ditusuk, serta orang-orang yang membuang undi atas pakaian-Nya.
Selain itu, Mazmur 31:6 juga sangat relevan dengan Jumat Agung:
“Ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku; Engkau membebaskan aku, ya TUHAN, Allah yang setia.” (Dikutip Yesus sebelum menghembuskan napas terakhir dalam Lukas 23:46).