Ketika yang Kalah Menjadi Pemenang: Misteri Paskah

Di mata dunia, penyaliban Yesus adalah lambang kekalahan mutlak. Seorang Guru yang dielu-elukan, berakhir tragis di kayu salib. Namun, Paskah membuktikan bahwa apa yang dunia anggap sebagai kekalahan terbesar, justru merupakan kemenangan paling agung dalam sejarah alam semesta.

Jeritan Kekalahan Setan di Hari Kebangkitan

Film legendaris The Passion of the Christ (2004) yang disutradarai oleh Mel Gibson

Dalam film tersebut, ada sebuah adegan non-alkitabiah namun sarat makna teologis yang digambarkan dengan sangat luar biasa.

Sepanjang proses penyaliban, sosok Setan digambarkan tersenyum sinis, berbisik menggoda, dan merasa di atas angin. Setan mengira bahwa dengan menghasut manusia untuk menyiksa dan membunuh Yesus, ia telah berhasil menggagalkan rencana keselamatan Allah. Kematian Yesus di atas salib dirayakan oleh kegelapan sebagai kemenangan mutlak mereka.

Namun, keadaan berbalik 180 derajat.

  • Saat Yesus mengembuskan napas terakhir, bumi berguncang dan tabir Bait Suci terbelah.
  • Saat fajar menyingsing di hari yang ketiga, kubur kosong dan Yesus bangkit mengalahkan maut!
  • Detail Adegan Film: Mel Gibson menggambarkan momen kekalahan Setan ini dengan sangat dramatis. Kamera menyorot sosok Setan yang berada di suatu tempat yang gersang dan sunyi (menggambarkan neraka atau kehampaan). Begitu menyadari bahwa Yesus bangkit dan maut telah dikalahkan, Setan berlutut, menengadah ke langit, dan berteriak histeris dengan penuh keputusasaan. Itu adalah jeritan makhluk yang baru saja menyadari bahwa “kemenangan” yang ia rayakan kemarin sebenarnya adalah batu kubur bagi kekuasaannya sendiri. Dia mengira dia berhasil membunuh Sang Hidup, padahal kematian Yesus justru menjadi jembatan yang menghancurkan kuasa maut.

Kalah menurut dunia

Kemenangan Kristus atas maut tidak diraih dengan pedang, kekuasaan, atau pembalasan. Dia menang justru dengan cara “mengalah”, menyerap semua kejahatan manusia tanpa membalasnya dengan kejahatan. Gaya hidup radikal inilah yang sudah Dia ajarkan sebelumnya kepada kita semua, sebuah standar baru yang meruntuhkan hukum balas dendam dunia, seperti yang tertulis dalam Kitab Suci:

Matius 5:38-42

“Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.”


Dari “Hukum Dunia” Menuju “Kasih Karunia”

Di dalam ayat-ayat di atas, Tuhan Yesus membalikkan logika manusia. Dunia mengajarkan hukum keadilan yang kaku: Mata ganti mata (jika kita terluka, lawan juga harus terluka agar adil—sebuah upaya manusia untuk menciptakan kondisi win-win atau setidaknya sama-sama impas).

Namun, Yesus mengganti sistem itu dengan kerelaan untuk “kalah” terlebih dahulu (win-loss).

  • Dia meminta kita memberikan pipi kiri saat pipi kanan ditampar.
  • Bahkan Kita diminta memberikan lebih dari yang diminta
    • Dia meminta kita memberikan jubah saat baju kita diingini.
    • Dia meminta kita berjalan 2 mil kalau dipaksa berjalan 1 mil (orang Romawi dulu berhak menyuruh orang Yahudi yang ditemuinya di jalan membawakan barang bawaannya sepanjang 1 mil)

Yesus tidak hanya mengajarkan teori ini, Dia menghidupinya di atas kayu salib. Dia mengambil posisi loss (merelakan diri-Nya menderita, dihina, dan mati) agar kita manusia mendapatkan posisi win (pengampunan dosa dan hidup kekal).

Kematian yang seharusnya menjadi vonis kekalahan dan hukuman bagi manusia akibat dosa, kini telah diubah oleh Yesus menjadi pintu gerbang menuju surga. Dia membiarkan diri-Nya “dikalahkan” oleh maut selama tiga hari, hanya untuk bangkit dan membuktikan bahwa kasih yang rela berkorban adalah pemenang yang sesungguhnya.

Selamat merayakan kemenangan Paskah!

Mazmur 16: 10: “Sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan.”