Home   Uncategorized   Autisme

Autisme

1. Pemahaman teoritis

1.1. Apakah autisme itu? Berapa banyak penderitanya?

BAGAIMANA anda mengetahui seseorang menderita autisme? Untuk itu anda harus melihat pada kriteria yang telah didefinisikan oleh ahli medis. Kriteria yang paling sering digunakan adalah yang didefinisikan oleh World Health Organization, yang terdapat dalam ICD- I 0 (International Classification of Disease), edisi ke- I 0 (WHO, 1987)) dan the DSM-IV (Diag­nostic Statistical Manual, edisi ke-4, dikembangkan oleh American Psychiatric Associaton) (APA, 1994).

 

Definisi gangguan autistik dalam DSM-IV sebagai berikut.

Terdapat paling sedikit enam pokok dari kelompok I , 2 dan 3 yang meliputi paling sedikit dua pokok dari kelompok I , paling sedikit satu pokok dari kelompok 2 dan paling sedikit satu pokok dari kelompok 3.

I . Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang ditunjukkan oleh paling sedikit dua di antara yang berikut ini:

  1. Ciri gangguan yang jelas dalam penggunaan berbagai perilaku nonverbal (bukan lisan) seperti kontak mata, ekspresi wajah, gestur, dan gerak isyarat untuk melakukan interaksi sosial.
  2. Ketidakmampuan mengembangkan hubungan pertemanan sebaya yang sesual dengan tingkat perkembangannya.
  3. Ketidakmampuan turut merasakan kegembiraan orang lain.
  4. Kekurangmampuan dalam berhubungan emosional secara timbal balik dengan orang lain.

2. Gangguan kualitatif dlm berkomunikasi yg ditunjukkan oleh plg sedikit salah satu dari yg berikut ini

  1. Keterlambatan atau kekurangan secara menyeluruh dalam ber­bahasa lisan (tidak disertai usaha untuk mengimbanginya dengan penggunaan gestur atau mimik muka sebagai cara alternatif dalam berkomunikasi).
  2. Ciri gangguan yang jelas pada kemampuan untuk memulai atau melanjutkan pembicaraan dengan orang lain meskipun dalam percakapan sederhana.
  3. Penggunaan bahasa yang repetitif (diulang-ulang) atau stereotip (meniru-niru) atau bersifat idiosinktratik (aneh).
  4. Kurang beragamnya spontanitas dalam permainan pura-pura atau meniru orang lain yang sesual dengan tingkat perkembangannya.

3. Pola minat perilaku yang terbatas, repetitif, dan stereotip se­perti yang ditunjukkan oleh paling tidak satu dari yang berikut ini:

  1. Meliputi keasyikan dengan satu atau lebih pola minat yang terba­tas atau stereotip yang bersifat abnormal balk dalam intensitas maupun fokus.
  2. Kepatuhan yang tampaknya didorong oleh rutinitas atau ritual spe­sifik (kebiasaan tertentu) yang nonfungsional (tidak berhubungan dengan fungsi).
  3. Perilaku gerakan stereotip dan repetitif (seperti terus menerus membuka-tutup genggaman, memuntir jari atau tangan atau menggerakkan tubuh dengan cara yang kompleks.
  4. Keasyikan yang terus-menerus terhadap bagian-bagian dari sebuah benda.

Perkembangan abnormal atau terganggu sebelum usia 3 tahun seperti yang ditunjukkan oleh keterlambatan atau fungsi yang abnormal dalam paling sedikit satu dari bidang-bidang berikut ini : ( I ) interaksi sosial, bahasa yang digunakan dalam perkembangan sosial, (2) bahasa yang digunakan dalam komunikasi sosial, atau (3) permainan simbolik atau imajinatif.

Sebaiknya tidak disebut dengan istilah Gangguan Rett, Gangguan Integratif Kanak-kanak, atau Sindrom Asperger.

1.2. Golongan retardasi (hambatan) mental dan gangguan belajar.

Dalam DSM-IV (seperti juga dalam 1CD-10) autisme ditempatkan di bawah kategori “gangguan perkembangan pervasif”, antara “retardasi men­tal” dan “gangguan perkembangan spesifik”.

Di bawah kategori ‘retardasi mental’, dapat dikatakan bahwa perkembang­an menjadi lambat. Seseorang yang mengalami retardasi mental menjalani tahapan perkembangan yang sama seperti anda dan saya, tapi Iebih lambat. Usia mentalnya selalu lebih rendah dari usia kronologisnya.

Di bawah kategori “gangguan perkembangan spesifik” kita dihadapkan pada perkembangan yang lambat atau tidak normal pada suatu bidang ke­mampuan tertentu. Sebagai contoh, seorang penderita disleksia memiliki satu kesulitan yang luar biasa dalam belajar. Meskipun intelegensinya normal, dia memiliki kesulitan yang tidak biasa dalam belajar membaca.

Bila ditemukan beberapa bidang “gangguan kualitatif” maka kita merujuk pada “gangguan perkembangan pervasif”. Lalu, gangguan perkembangan pervasif, seperti autisme kemudian digolongkan di antara retardasi mental dan gangguan belajar. Karakteristik yang paling penting dari golongan gang­guan perkembangan perfasif adalah terdapatnya “gangguan dominan yang terdiri dari kesulitan dalam pembelajaran ketrampilan kognitif (penger­tian), bahasa, motor (gerakan) dan hubungan kemasyarakatan”.

Dengan menggunakan istilah “gangguan kualitatif” kita memahami bahwa gangguan yang terjadi mungkin disebabkan oleh lebih dari sekedar perkembangan
yang lambat (seperti dalam kasus retardasi mental) atau suatu kecacatansekunder (sensorik atau motorik).

Penderita gangguan perkembangan pervasif dpt terbelakang secara mental pada saat yg sama, tapi ini berarti bahwa ada masalah lain yg tdk berhubungan dg gangguan perkembangan pervasif. Kata “pervasif” menyatakan bahwa seseorang menderita kerusakan jauh di dalam, meliputi keseluruhan dirinya. Inilah masalah yg dihadapi para penyandang autisme.

Apa yang membuat hidup kita benar-benar berarti adalah berkomunikasi dengan orang lain, memahami perilaku mereka, menghadapi benda-benda, situasi, dan orang-orang dengan cara yang kreatif. Dalam ketiga bidang inilah para penyandang autisme menemui kesulitan terbesar dalam hidup mereka.

Ungkapan “gangguan pervasif” merupakan cara yang lebih baik untuk menjelaskan apa yang terjadi pada diri mereka dibanding sekedar kata “autisme”. Jika orang mengalami kombinasi kesulitan dalam perkembangan komunikasi, pemahaman dan imanjinasi sosial, dan, lebih jauh lagi, mengalami kesulitan-kesulitan spesifik dalam memahami apa yang mereka lihat dan dengar, maka sebutan “autistik” dalam batasan pengertian “menyisihkan diri” atau “menyendiri” bukanlah definisi yang terbaik. Kesulitan mereka sebenarnya jauh lebih besar daripada karakteristik tunggal penarikan diri secara sosial ini.

1.3. Bukan penyakit mental maupun psikosis (penyakit kejiwaan)

Penting untuk diingat bahwa autisme tidak lagi dikelompokkan sebagai penyakit mental atau psikosis seperti dahulu. Pada tahun 1970 diterbitkan majalah ilmiah profesional internasional tentang autisme, majalah ini sangat penting.

Semula majalah ilmiah tersebut bernama The Journal of Autism and Childhood Schizophrenia (Majalah Ilmiah tentang Autisme dan masa kanak­kanak penderita schizophrenia). Kemudian diubah menjadi Journal of Autism and Developmental Disorders (Majalah Ilmiah tentang Autisme dan Gang­guan Perkembangan).

Sejak saat itu sebagian besar peneliti menjadi yakin bahwa penyelidikan tentang hubungan antara autisme dan penyakit mental menjadi kurang berarti dan lebih relevan untuk mengarahkan penelitian di masa depan ke arah pembandingan antara autisme dengan gangguan perkembangan lainnya.

lstilah “penyakit mental” menunjukkan bahwa bentuk perawatan mula-­mula bersifat psikiatrik (kejiwaan); ketika perawatan psikiatrik terbukti cukup berhasil maka kemudian diberikan perhatian kepada (beberapa bentuk) asuhan dan didikan.

Dalam kasus gangguan perkembangan pervasif, pendidikan khusus merupakan prioritas pertama dalam perawatan. Pada kondisi tertentu juga diperlukan perawatan psikiatrik. Untuk autisme, sebagai contoh, hal tersebut mungkin harus diterapkan terhadap kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh para penyandang autisme berkemampuan tinggi dalam memahami bahwa mereka memiliki kecacatan dan usaha mereka untuk menyembunyikan­nya. Mereka sering berusaha keras melakukannya tetapi terus dihadapkan pada ketidakberdayaan mereka. Ini akan menyebabkan sebagian besar dari mereka merasa depresi (tertekan). Perawatan terbaik untuk mengatasi depresi yang mereka derita bisa diperoleh dari seorang psikiater dengan spesialisasi autisme.

Perbedaan penting lainnya antara gangguan perkembangan pervasif dan penyakit mental adalah menyangkut tujuan akhir perawatan. Seseorang yang sakit mental, dulu pernah “normal” sehingga diusahakan untuk membuatnya “normal” kembali.

Dalam kasus autisme kita harus menerima kenyataan bahwa gangguan perkembangannya bersifat permanen (tetap). Karena itu tujuan perawatannya adalah untuk mengembangkan berbagai kemungkinan dalam batasan-batasan tersebut, dengan kata lain mempersiapkan si anak untuk menghadapi kehidupan dewasanya sehingga bisa berintegrasi (me­nyatu) dalam masyarakat dengan sebaik mungkin (dengan tetap mendapat perlindungan) .

 

Seorang Autis mempunyai 4 masalah yaitu

  1. Masalah Makna
  2. Komunikasi
  3. Interaksi Sosial
  4. Masalah Imajinasi

 

  1. Masalah Makna

CHARLES di tahun pertamanya di universitas, mempelajari sejarah. Kesuka­annya adalah topik Pohon Silsilah Keluarga. Dia hafal seluruh isi buku, hal ini membuat rekan-rekan mahasiswanya terkesan mungkin lebih dikarenakan ketidakberdayaannya di bidang lain. Mereka tidak dapat memahaminya. Charles adalah seorang pemuda yang hebat, tapi pernahkah anda melihat bagaimana ia memesan sandwich? Dia tidak suka mentega, tapi bukannya memesan sandwich tanpa mentega, dia malah memesan apa yang pertama muncul di kepalanya. jika temyata yang diterimanya adalah sandwich dengan mentega, dia membayar, pergi ke luar lalu membuang sandwich itu ke tong sampah pertama yang ditemuinya. Dia tidak pernah belajar bagaimana cara memesan “sandwich tanpa mentega”.

 

1.1.     Menambahkan makna pada persepsi: suatu kemampuan terbatas untuk memaknai dan memahami

Hermelin menulis: “PATOLOGI kognitif/ilmu penyakit pemahaman ini tampaknya secara luas terdiri dari suatu ketidakmampuan untuk mengurangi informasi melalui ekstraksi fitur-fitur krusial/ciri-ciri gawat yang tepat seperti kaidah dan kele­bihan-kelebihannya. Gangguan dalam proses ini menentukan pola perilaku yang diingat dengan baik, stereotip dan terbatas, yang menjadi semakin tidak tepat ketika kebutuhan terhadap kode-kode yang kompleks dan fleksibel meningkat. Masalah ini berada di bidang perkembangan bahasa dan interaksi sosial, yang diatur oleh kaidah-kaidah yang kompleks dan fleksibel tersebut, di mana gangguan kognitif anak-anak autistik menjadi paling jelas.”

 

Sebagai contoh, dalam sebuah pengujian memori verbal/daya ingat lisan, ketiga kelompok anak diuji. Apa yang terlihat kemudian adalah suatu gambaran sederhana yang menguatkan isi pengujian tersebut.

Pada tahap pertama, anak-anak tersebut diminta untuk mengingat sebanyak mungkin kata dari sebuah daftar yang tidak beraturan (contohnya, “jendela — apel — proyektor dinding — air — buku — mungkin — lari”). Ketiga kelompok tersebut memperoleh hasil yang sama baiknya, sebagaimana yang diharapkan terjadi pada anak-anak yang memiliki usia mental yang sama.

Dalam tahap kedua pengujian, kata-kata kemudian disajikan dalam hubungan yang berarti: makna menjadi bagian dari persamaan (contohnya, apel — anggur — jeruk — lemon — pir — mobil — kapal — pesawat). Jika kita men­dengar daftar seperti ini mungkin kita segera bereaksi dengan berpikir; “Saya tahu. Itu mengenai buah dan alat transportasi. Pada saat itu persepsi/tang­gapan kita terkait pada makna dari isi daftar tersebut, ingatan kita bekerja secara lebih efisien / tepatguna: menambahkan makna membantu kita untuk mengatur hidup.

Dalam tes itu pencapaian anak-anak yang normal dan cacat mental meningkat sementara pencapaian anak-anak penyandang autisme, meski pun pada usia mental yang sama, tetap pada tingkatan sebelumnya, menambahkan makna pada tanggapan / persepsi tidak memberi bantuan pada mereka.

Jika seorang penyandang autisme memiliki masalah “makna” dalam ke­hidupan sehari-harinya sama banyak dengan yang dialaminya dalam pengujian, maka dia akan terasing dalam dunia di mana makna secara umum ditemukan melalui komunikasi dan perilaku sosial. Dia akan makin banyak tergantung pada informasi perseptual/dapat dimengerti lebih dari yang semestinya pada usia mentalnya.

Kita dapat melihat bahwa sejak lahir, secara intuitif anak-anak menyadari bahwa suara manusia lebih penting dibanding suara-suara lain. Seiring dengan berjalannya waktu, bahkan tanpa pengajaran, mereka mulai memahami bahasa manusia dan belajar bicara. Anak-anak belajar menambah­kan makna pada persepsi terhadap suara. Mereka menjadi bisa memahami abstraksi: suara “gelas” hanya memiliki hubungan dengan benda “gelas”.

Kadang-kadang kita tidak boleh berhenti untuk menganggap bahwa penambahan makna pada perilaku sosial juga diperlukan dalam rangka untuk memahaminya. Kemampuan untuk memahami perilaku sosial jelas tertanam dalam otak kita & sebagian besar penyandang cacat menyimpan intuisi/ gerak hati sosial mereka secara relatif utuh. Walaupun cacat, penyandang tuli, buta, cacat mental & gangguan kemampuan berbahasa tidak memiliki masalah khusus dlm memahami perilaku sosial atau menambahkan makna pada persepsi sosial. Mereka dapat memahami ungkapan emosi: seorang anak penderita cacat kemampuan berbahasa membiarkan dirinya dibelai, seorang anak yg tuli memahami makna senyuman ibunya.

Betapa berbedanya hal ini dengan autisme. Bayangkan tokoh Rain Man dan adegan di dalam lift waktu kekasih adiknya yang bersimpati bertanya apakah ia pernah dicium seorang perempuan. Apakah dia tahu bagaimana rasanya dicium perempuan? Kemudian perempuan itu menciumnya dan bertanya dengan lembut bagaimana rasanya? “Basah”, kata Rain Man.

Dia benar. Dilihat dari sudut pandang persepsi murni, sebuah ciuman memang basah. Kesulitan yg dihadapinya adl memahami emosi di balik kebasahan tersebut, menambahkan makna pada persepsi harfiah/apa adanya. lni membantu kita untuk memahami kesedihan yang mendalam dari para orang tua yang merasa ditolak oleh anak mereka yang menyandang autisme. Sebagai contoh, ketika segalanya sudah tak tertahankan lagi, seorang ibu roboh dan menangis sejadi-jadinya. John, putranya, melihat semua itu lalu tertawa terbahak-bahak. “John malah mentertawakan saya …” Sebenarnya, tawa tersebut disebabkan oleh sesuatu yang lain. Dalam pandangan John, cucuran air mata itu adalah pemandangan yang lucu. Mengapa? Sebelumnya dia hanya melihat air keluar dari keran air dan sekarang dia melihat air keluar dari mata seseorang: keran air manusia?

Itu sebabnya penting untuk diingat bahwa penyandang autisme memiliki kesulitan khusus dalam “mem­baca” mimik wajah dan emosi di balik persepsi.

Anak-anak biasa mengembangkan intuisi sosial sejak usia dini dan den­gan cepat lebih menyukai sesama manusia daripada benda-benda. Ketika tumbuh, mereka menjadi semakin dan semakin tertarik pada kehidupan manusia di sekitarnya. Mereka juga semakin bisa memahaminya. Kita dapat melihat hal ini melalui permainan simbolik mereka, ketika mereka mulai mengekspresikan kenyataan bahwa perilaku manusia berarti bagi mereka: berpura-pura memberi makan boneka, menidurkannya di atas tempat tidur, nnendudukkannya di atas kursi, dan lain-lain.

Perkembangan imajinasi/daya khayal (penambahan makna pada per­sepsi) dan perilaku sosial sangat berbeda pada anak-anak penyandang au­tisme. Jika mereka diajak bermain dan “berpura-pura”, mereka lebih suka mencari kegiatan yang berfokus pada persepsi murni, seperti menumpuk benda-benda atau menjajarkannya berbentuk barisan. Ketiadaan permainan simbolik menunjukkan kepada kita bagaimana sedikit pemahaman mereka terhadap perilaku orang tua dan saudara kandung mereka.

Jenis kognitif yang berbeda dari penyandang autisme dapat disim­pulkan sebagai berikut. Di mana pun di dunia ini, anak-anak dilahirkan dengan kemampuan biologis yang terprogram untuk menambahkan makna pada persepsi hanya dengan sedikit stimulasi/rangsangan sosial. Berkat kemampuan ini mereka secara intuitif lebih menyukai suara ma­nusia; dengan cara itu mereka menganalisa dan memahami komunikasi manusia dan pada akhirnya mereka sendiri yang berkomunikasi. Dengan kemampuan yang sama ini mereka juga dapat lebih dahulu memahami perilaku manusia dan kemudian, tetap dengan pemahaman ini, mampu berperilaku yang dapat diterima secara sosial. Sebenarnya kemampuan biologis bawaan inilah yang terkena dampak pada penyandang autisme. Kemampuan tersebut bukannya “tidak ada” tapi terganggu. Banyak pe­nyandang autisme sebenarnya memahami makna-makna tertentu, yang ditunjukkan melalui komunikasi, perilaku sosial dan imajinasi. Kesulitan yang mereka miliki dalam penambahan makna mungkin berada pada tingkat yang lebih tinggi.

 

Anak Autis juga mempunyai kemampuan yang terbatas untuk memaknai gestur/gerak isyarat.

Anak Autis juga kesulitan memahami ungkapan emosional manusia

 

KARENA hidup merupakan sejenis kumpulan suara dan penampakan yang membingungkan, maka seorang autistik akan sangat terbantu jika dapat memperoleh keteraturan dalam hidupnya. Yang penting adalah bahwa kebutuhan terhadap konsistensi terjaga setiap harinya. Bagi sebagian besar orang mungkin hal ini membosankan, tapi itu merupakan salah satu dari sedikit hal yang benar-benar dapat mengurangi sedikit penderitaan. Bagi saya, penting untuk mengatur waktu dan tempat untuk apa saja. Para orang tua dapat membantu anak-anak mereka agar merasa lebih aman tapi mungkin mereka akan mendapatkan bahwa kehidupan mereka sendiri sangat menjemukan. Sebuah masalah muncul: kalau menginginkan perubahan yang lebih baik, maka saya harus membiarkan segala sesuatunya berubah. Tampaknya menjadi pertukaran antara menjaga segala sesuatunya tetap sama untuk meminimalkan rasa takut dan mengubah segala sesuatunya demi kemajuan. Saya akan menyarankan bahwa kegiatan-kegiatan harian seperti mandi, makan, mencuci tangan dan menggosok gigi, semua harus dilakukan pada saat yang sama dan bahwa seorang anak harus mempunyai waktu tertentu untuk mendengarkan musik setiap hari pada saat yang sama. Dengan demikian akan ada tata tertib dan hal-hal baru yang dapat diperkenalkan di sela-sela waktu tersebut.

Contoh: Makna baju hangat berwarna merah

Steven pernah berlibur di pegunungan bersama orang tuanya dan meng­alami saat yang indah. Ketika itu dia benar-benar terpesona oleh salju, es, dan matahari, yang semuanya memantulkan cahaya putih. Setiap hari selama seminggu dia mengenakan baju hangat tebal berwarna merah. Itu terjadi 2 bulan yang lalu. Hari ini ibunya memakaikan baju hangat berwarna merah itu lagi. Mula-mula ibunya tidak mengerti mengapa Steven menjadi sangat senang, tapi bagi Steven itu merupakan tanda bahwa dia akan pergi ke pe­gunungan dan melihat salju lagi. Dia menjadi gelisah sepanjang hari karena mereka masih juga belum berangkat dan pada malam harinya, ketika mereka masih tetap di rumah dia menjadi sangat marah.

 

1.2 Yang kuat harus beradaptasi: sebuah masalah kesopanan

Seorang penderita autisme menderita akibat kekurangan makna dalam hidupnya. Karena itu, bantuan untuk hal ini harus menjadi prioritas utama. Mereka yang tidak menemukan rasa aman yang sebenarnya akan menghabis­kan banyak energi untuk menemukannya. Pada saat yang sama mereka tidak akan bisa menikmati hal-hal yg lebih sederhana dalam hidup.

Hal yang sama juga berlaku bagi kita orang biasa. Bayangkan jika anda diundang untuk hadir dalam sebuah konferensi selama 3 hari di Bulgaria. Sementara itu anda tidak bisa berbicara dalam bahasa Bulgaria, maka anda akan menghadapi masalah komunikasi. Apalagi, anda pernah mendengar bahwa orang Bulgaria menganggukkan kepala jika menjawab tidak, dan – menggelengkan kepala jika menjawab ya. Dunia jadi seperti terbalik.

Pada akhirnya anda sampai di bandar udara Sofia untuk mengikuti kon­ferensi selama 3 hari di mana anda akan menjadi pembicara. Coba pikirkan pertanyaan-pertanyaan apa yang mula-mula muncul mempertimbangkan masalah komunikasi dan sosial yang anda hadapi. Pertanyaan-pertanyaan itu tentu tentang rincian selama anda berada di sana. Pertanyaan pertama yang paling mungkin muncul adalah tentang tempat: pertanyaan “di mana” — di mana konferensi itu akan dilangsungkan, di mana ruangan konferensinya, di mana saya tidur, di mana saya makan? Ketika anda sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu, anda akan merasa lebih tenang. Anak-anak penyandang autisme juga membutuhkan kepastian yang sama. Mereka akan menjadi lebih tenang jika dapat membuat asosiasi yang jelas antara kegiatan dan tempat.

Pertanyaan kedua dalam daftar adalah tentang organisasi waktu: pertanya­an “kapan”. Jadwal konferensi akan memberikan jawaban pada pertanyaan tentang kapan ceramah dimulai, berapa lama akan berlangsung, dan juga kapan giliran anda memberi ceramah, kapan jam istirahat, dan kapan anda makan. Ketika anda telah mendapatkan semua jawabannya, anda akan merasa lebih tenang. Setiap orang menginginkan kepastian dalam hidupnya.

Hal yang sama terjadi juga pada penyandang autisme, kecuali bahwa kesulitan komunikasi dan sosial mereka jauh lebih berat. Mereka sangat sulit beradaptasi dengan kita. Jika kita undang mereka untuk bergabung dengan kelompok pergaulan kita atau kelas kita, mereka adalah “tamu” kita, jadi kita harus menjadi penerjemah mereka. Kita harus mengkomunikasikan informasi mengenai “di mana” dan “kapan” dengan cara yang mereka mengerti. Dengan cara ini kita membuat hidup mereka lebih bisa diduga. Hal ini tidak perlu menjadi masalah besar: hanya masalah penyederhanaan sopan santun.

Dengan sopan santun mereka, orang Bulgaria membuat kita menjadi lebih independen / mandiri di negara mereka; dengan sopan santun kita, kita dapat membuat seorang autistik menjadi lebih independen.

 

Membantu Anak Autis dengan:

  1. Pengaturan Lokasi (pertanyaan “dimana”)

Mereka memiliki kesulitan memahami kegunaan suatu ruangan, perilaku yang sesuai dengan tempatnya, Ini berarti kita harus menciptakan wilayah- wilayah di kelas untuk fungsi-fungsi yang berbeda sehingga murid akan memiliki lingkungan yang dapat diduga: pojok/ruangan ini untuk bekerja, pojok itu untuk bermain, ruangan itu untuk makan. Jadi pisahkan pojok/ruangan untuk berbagai kegiatan kelas.

Intinya bagaimana kita menciptakan ruang & waktu yang dapat diduga bagi anak Autisme, karena penyandang Autisme tidak suka perubahan atau hal baru. Sehingga kombinasi antara penciptaan lingkungan yang dapat diduga, rutinitas & mengkombinasikannya dengan tugas-tugas yang dapat diselesaikan sepenuhnya oleh anak autis.

Ruangan bersekat dimaksudkan untuk membebaskan anak dari gangguan terhadap konsentrasi mereka. Di HolyStar School semua murid memiliki meja yang tersekat satu dengan yang lain untuk melakukan pekerjaan mereka masing2x. (bahkan pengaturan meja sdh dibuat sesuai dengan anak Autis)

Salah satu pendidikan yang terpenting dalam menghadapi masalah perilaku ini adalah menyesuaikan lingkungan. Ini harus bersifat se-individual mungkin. (mana ada prosedur sekolah se-indiviual HolyStar School ?)

 

  1. Pengaturan Waktu

Anak Autis memiliki kesulitan untuk “melihat melampaui yang harfiah” Jadi bagaimana mereka dapat memahami apa yang dimaksud dengan “waktu yang tidak terlihat”?

Banyak masalah perilaku yang berkaitan dengan ketidakmampuan mereka untuk melakukan manajemen waktu (anak autis jika mencium bau makanan, dia ingin memakannya –segera – walau daging itu seharusnya digoreng dulu. Kalau anda jelaskan bahwa dia harus menunggu, dia langsung mengamuk)

Kalau ada perubahan yang tidak diberitahukan sebelumnya pasti akan menimbulkan kemarahannya.

Anak Autis bisa menggunakan jam pasir. Jika jam pasir pada satu sisi telah habis, maka itu berarti waktu utk…

Anak Autis juga dapat mempelajari tahapan kejadian melalui gambar atau simbol.

Seperti kita, penyandang autisme membutuhkan jadwal. Ada 3 tahap dalam membuat jadwal yaitu

  1. Melibatkan durasi
  2. Menyangkut pelatihan tentang tahapan kejadian
  3. Pilihan lambang terhadap tahapan kejadian.

Benda-benda & gambar memberikan suatu jawaban visual terhadap pertanyaan “mengapa” dan “dimana”. Dia juga ingin tahu berapa lama kegiatannya berlangsung. Penyandang Autisme juga ingin akhir yang jelas.

 

  1. “Bagaimana melakukan” sebuah tugas

Tujuannya yaitu Mempersiapkan anak-anak utk menjalani kehidupan dewasa semandiri mungkin. Mandiri itu sendiri bergantung pada cara kita menyesuaikan lingkungan & kegiatan bagi mereka.

Anak-anak biasa merasa mampu ketika bermain. Anak Autis merasa mampu ketika mereka bekerja.

Uang bukanlah perangsang yang penting bagi sebagian besar anak Autis. Mereka menginginkan hadiah yang tampaknya aneh bagi kita seperti memegang mobil-mobilan, mengayun tali, dll. Makanan atau minuman mungkin merupakan satu-satunya hadiah yang dapat memotivasi mereka ditambah ucapan “kerja yg bagus!”, “Bagus sekali!”, dll. Dengan harapan pujian tersebut akan menjadi lebih penting artinya & kemudian hadiah tersebut dapat dihilangkan.

 

 

  1. Komunikasi

Hati-hati. Ciri-ciri Autisme tidak boleh dipandang secara absolut. Ekolali (pengulangan kata-kata atau kalimat, segera atau tertunda) sering dikatikan dg autisme. Penelitian memang menunjukkan bahwa sebagian besar penyandang autis muda yang berkemampuan verbal memiliki ciri ekolali. Bagaimanapun, ekolali bukan merupakan ciri autisme yang penting.

Anak-anak kecil normal menyebut sebuah benda sebagai “gelas” tapi juga menggunakan kata yang sama untuk cangkir atau gelas kimia dan bahkan botol, karena semua bisa digunakan untuk minum. Setelah itu, mereka menyadari kesalahan itu dan memperbaikinya sendiri. Yang menarik dari kesalahan ini adalah bahwa orang dapat melihat bagaimana pikiran mereka bekerja. Mereka memiliki kecenderungan intuitif untuk terbawa makna dan bukan persepsi ketika mengembangkan pengetahuan. Hal terpenting pada pemahaman mereka terhadap kata “kursi” bukanlah penampilan sebenarnya dari kursi yang terlihat, tapi makna di baliknya: yaitu sesuatu untuk diduduki.

Dalam tahap-tahap awal perkembangan bahasa pada anak-anak penyan­dang autisme, orang tidak menemukan jenis kesalahan ini — sebenarnya, sebaliknya justru sering benar. Seorang anak penyandang autisme memiliki kecenderungan untuk menggunakan “kursi” untuk satu kursi tertentu, dengan tinggi tertentu, warna tertentu, dengan empat kaki. Dari sudut pandangnya, tidak masuk akal kalau benda yg lebih besar, dengan warna berbeda atau dengan tiga kaki diberi sebutan yg sama. Pemahaman dasarnya, berdasarkan apa yang dia lihat, terlalu terbatas untuk kemungkinan membuat generalisasi/penyamarataan spontan. (Penting untuk diwaspadai bahwa hal ini bukan pernyataan tanpa pengharapan. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa para penyandang autisme muda tidak dapat menyama­ratakan sama sekali, hanya saja perlu disadari bahwa mereka mungkin tidak memiliki kemampuan untuk membuat kemungkinan generalisasi spontan. Jika tidak, mereka membutuhkan bantuan dari orang lain.)

APA yang saya perhatikan dari perkembangan awal bahasa Thomas adalah bahwa dia mengarang sendiri nama untuk benda-benda yang sebenarnya sama, tapi tidak benar-benar tampak sama. Untuk beragam benda yang kita rebut “sepeda” dia menyebutnya dengan nama lain. Ada yang disebutnya “sepeda”, “traktor”, “roda dalam lumpur”, “roda di rumput” dan juga “kaki di pedal”. Semua orang menyebutnya “anak muda yang kreatif”, tapi saya tahu itu sebenarnya berkaitan dengan ketidakberdayaan. Dia tidak mengerti apa yang saya maksud ketika saya berkata “naik sepedamu” jika “kaki di pedal”-nya ada di hadapannya. Dia tidak bisa mengerti bahwa kami menyebut “kaki di pedal”-nya sebagai sepeda juga.

 

Untuk menggunakan kata-kata sederhana seperti “besar” & “kecil”, mula-mula org harus meletakkanya dalam konteks (besar/kecil dibandingkan apa, 1 gelas kita katakan besar dibandingkan 1 gelas yang lainnya, tapi gelas yang tadi kita katakan besar, maka bisa kita katakan kecil kalau dibandingkan dengan gelas yang lebih besar darinya). Hal ini menuntut keluwesan mental yang mungkin tidak dimiliki oleh penyandang autisme. (anak autis akan berkata gelas di medium size tersebut adl gelas besar, waktu kita tanya gelas yang mana yang lebih besar (dibandingkan dengan gelas big size).

Anak Autis juga kebingungan menggunakan kata “kamu”, “saya” “kami” “mereka” “dia”, karena kata itu kita pergunakan sesuai konteks.

2.1. Ekolali sebagai usaha untuk memiliki

Jikakita memahami masalah yg dimiliki anak-anak penyandang autisme saat mempelajari kata-kata sederhana, kita juga dapat membayangkan mengapa begitu banyak kalimat mereka memiliki ciri ekolali & mengapa penggunaan bahasa mereka sering tidak memiliki kreativitas & daya cipta, membatasi diri pada pengulangan kalimat yang telah diucapkan oleh orang lain.

Anekdot-anekdot sering mengungkapkan lebih banyak dibanding satu halaman teori, jadi berikut ini adalah beberapa contoh.

Liz berusia 5 tahun. Dia tidak bicara tapi dapat menyanyikan sekitar lima buah lagu di luar kepala. Dia menyanyikan kata-kata “air”, “susu”, “roti”, tapi jika dia lapar atau haus, dia hanya menarik tangan ibunya dan menuntunnya ke dapur. Mengapa dia tidak mengatakan bahwa dia minta susu? Bagaimana pun, dia mengetahui kata yang harus digunakan. Kadang-kadang orang berkata, “Saya sudah bilang. Sebenarnya dia mampu, tapi tidak mau.” Tapi ada perbedaan yang besar antara sebuah kata yang diulang dan sebuah kata yang digunakan secara kreatif. Ketika menyanyikan lagu di luar kepala kita menggunakan proses sisi kanan otak. Sebuah kata dan nyanyian tidak dianalisa maknanya, tapi disimpan di dalam otak dengan cara yang agak dangkal dan diulang sesudahnya. Untuk menggunakan sebuah kata secara kreatif mula­mula anda harus menganalisa maknanya, dan proses tersebut dilakukan di sisi kiri otak. Liz belum mencapai tahap menganalisa makna tersebut. Ini akan terjadi nanti. Sekarang dia tak dapat melakukan hal itu.

Brian mengatakan, “Tutup pintu” ketika ingin dibiarkan sendirian. Mudah dimengerti mengapa demikian. Ketika ibunya membawanya ke kamar pada saat-saat terjadi masalah untuk menenangkan Brian, ibunya selalu berkata, “Ibu akan menutup pintu”, kemudian dia pergi dan Brian ditinggal sendirian.

Brian juga mengatakan, “Sudah selesai” jika dia tidak menyukai sesuatu yang harus dilakukannya, seperti bersih-bersih. Bagi Brian, ucapan “Sudah selesai” secara bertahap diartikan bahwa kegiatan itu telah selesai. Sekarang, ucapan “Sudah selesai” juga berarti “Saya tidak suka melakukannya”.

Suatu pemahaman yang lebih jelas tentang ekolali yang tertunda ber­lawanan dengan kalimat klise tentang anak autistik yang menghindari kontak. Ada yang menemukan bahwa justru sebaliknyalah adalah benar, anak-anak itu berusaha mengambil bagian dalam pembicaraan, mereka berusaha ber­komunikasi, hanya saja mereka melakukannya sebatas dengan kemampuan. Sebagai contoh, ketika Jeremy ingin mendengarkan musik dia selalu berkata, “Jangan pegang-pegang radionya, nanti rusak”. Ini terjadi karena dia selalu mendengar kalimat itu setiap kali mendekati radio. Yang ingin dijelaskannya adalah, “saya ingin mendengarkan musik”. Tapi orang-orang di sekitarnya tidak memahami hal ini. Nyatanya ekolali bukanlah sesuatu yang tidak biasa. Jika seorang anak yang tidak cacat disuruh melakukan sesuatu yang disampaikan dalam bahasa yang dia mengerti, dia akan melaksanakannya. Jika anda mengatakan, “ambil buku itu”, dia akan mengambilnya. Jika anda menggunakan kata-kata lain di luar pemahamannya, dia akan cenderung mengulanginya secara harfiah/apa adanya. Jika anda berkata, “buku abraka­dabra”, dia akan mengulangi kata-kata itu “buku abrakadabra”.

Lebih jauh lagi, ekolali bukan tidak biasa dalam perkembangan bahasa tahap awal. Penelitian ttg perkembangan bahasa yang normal mengacu pada “bayi-bayi kata” dan “bayi-bayi intonasi/nada bicara”. Bayi-bayi kata menggunakan cara-cara belajar bahasa yang normal. Kata-kata pertama mereka benar-benar merupakan kalimat satu kata: “susu” berarti “saya mau minum susu, beri saya susu”. Maknanya berasal dari kata tersebut.

Makna ungkapan ekolali sering tidak mudah diketahui. Saya rnasih tetap tidak mengerti dari mana Eric mendapatkan ungkapan “keretanya berangkat” tetapi ini adalah caranya mengatakan “sekarang mulai terlalu sulit bagiku.” Ini adalah caranya untuk memperingatkan kita: kalau kau tak melakukan sesuatu, maka akan ada keributan besar. Orang tua Eric juga tidak tahu asal-muasal ungkapan ini. Orang hanya dapat menduga bahwa dia pernah mengalami se­buah situasi sulit yang ingin ditinggalkannya, dan saat itu terdengar seseorang berkata “keretanya berangkat” dan secara kebetulan saat itu dia juga diijinkan pergi. Sekarang dia menyangka begitulah caranya minta ijin untuk pergi. Situasi belajar awal telah menanamkan sebuah karakter yang permanen. Eric meminta sesuatu sesuai dengan apa yang dia bisa bukan dengan cara yang seharusnya. Jika anda tidak mempedulikannya selama semenit atau dua menit setelah dia mengatakan, “keretanya berangkat”, dia akan menunjukkan krisis perilaku — tapi kan kamu sudah diperingatkan sebelumnya!

Leo Kanner menulis tentang seorang anak laki-laki yang hendak men­jatuhkan anjingnya dari balkon rumah. Ibunya sadar bahwa ia harus segera melakukan campur tangan. Dengan ekspresi marah sang ibu berteriak, “Jangan lemparkan anjing itu dari balkon!” Karena bingung, sang anak menurunkan anjing itu. Mungkin dia tidak mengerti mengapa ibunya sangat marah — dia tidak bisa menangkap maknanya — tapi peringatan itu jelas berhasil. Beberapahari kemudian anak yang sama duduk sendirian dan sedang merasa senang. Dia baru saja menemukan beberapa kotak yang berisi sesuatu berwarna putih yang menarik. Dia telah menghamburkan gula ke seluruh lantai, kemudian garam, tepung, dan sekarang beras. Di matanya, itu adalah pesta pora. Tapi kemudian sang ibu menghampirinya dengan ekspresi wajah yang sama seperti beberapa hari sebelumnya. Sebelum si ibu mengatakan sesuatu si anak berseru, “Jangan lemparkan anjing itu dari balkon!”

Jadi ekolali (di sini, ekolali yang tertunda) biasanya bukanlah penggunaan ba­hasa tanpa makna seperti yang kita sangka sebelumnya (“berhenti mengulangi”) tapi lebih merupakan usaha untuk mengatakan sesuatu dengan keterbatasan makna yang dimiliki.

 

2.2. Kesulitan Metafora: memahami kiasan secara harfiah.

Masalah lain bagi para autistik dengan kemampuan verbal ditimbulkan oleh ungkapan kiasan, kata-kata abstrak yang terlalu “sulit dipahami” dan kata-kata yang memiliki makna ganda. Contohnya banyak :

  • Ketika seorang anak laki-laki setelah berhujan-hujan diminta membersih­kan kaki, dilepaskannya sepatu dan kaos kaki lalu menggosokkan kakinya di keset kaki.
  • Seorang anak laki-laki panik ketika mendengar ibunya mengungkapkan ingin “menangis ” (dalam bahasa inggris to cry her eyes out) yang diartikan secara harfiah oleh anak itu (mengeluarkan mata).
  • Ketika si ibu mengatakan gulanya habis (run out), si anak mulai mencari lubang karena ia mengartikan kata-kata ibunya sebagai “luber”.
  • Sang ayah dan paman sedang membicarakan seorang teman yang ber­untung. “Dia berhasil menang besar (hit the jackpot)”, kata mereka. “Wah, rasanya pasti sakit”, kata sang anak autistik yang mengartikan kata-kata ayahnya sebagai “memukul (mesin) jackpot.”
  • Seorang anak berkeras meletakkan sepedanya di dalam rumah tiap malam. Orang tuanya baru mengetahui penyebabnya setelah beberapa minggu kemudian: si anak pernah mendengar seseorang berkata, “Malam telah tiba (night is falling).” Yang secara harfiah diartikannya sebagai “malam telah jatuh”.
  • Seorang anak laki-laki autistik mendengar seseorang membicarakan parnan­nya yang sakit. “Dia sudah berada (has been nailed) di tempat tidur selama tiga minggu”. Anak itu lari memberitahu ibunya, “Paman John dipaku (is nailed) di tempat tidurnya”, katanya, “dan dia tidak luka karenanya.”

 

Jika makna kata-kata yang “normal” diubah, anak-anak autis dapat menjadi sangat bingung.

 

Karena komunikasi verbal bersifat terlalu abstrak, kita harus membantu mereka dengan menggunakan sistem komunikasi visual, di mana hubungan antara lambang dan makna menjadi jauh lebih terlihat (ikonik/berlambang).

Pada saat yang sama kita harus menahan diri untuk tidak menggunakan bahasa tanda sebagai alat komunikasi alternatif bagi penyandang autisme. Terlalu banyak tanda memiliki makna yang hampir sama abstraknya seperti kata-kata: tidak tersedia cukup hubungan visual antara tanda dan maknanya. Itu sebabnya mengapa pengajaran bahasa tanda menuntut pemahaman yang terlalu tinggi bagi penyandang autistik.

Anak autis ingin berkomunikasi tapi tidak tahu bagaimana cara melakukanya, jika seorang anak autis menjatuhkan diri ke lantai atau membenturkan kepalanya ke tembok, hal ini sering terjadi karena dia ingin mengubah sesuatu dalam lingkungannya.

 

1. Brian meminta jus buah. lbunya menuangkan segelas jus apel untuknya. Brian tidak gembira. Ibunya menduga-duga apakah dia ingin jus jeruk dan kemudian menuangkan gelas kedua untuknya. Brian menjadi gelisah. Ibunya memberikan segelas jus nanas. Dia menjadi semakin gelisah. Sekarang ibunya juga gelisah. Seperti biasa ketika dia tidak memahami kemauan Brian, dia menunjukkan jarinya dan berkata, “Tunjukkan apa maumu”. Brian menariknya ke lemari es dan menunjukkan bahwa ia menginginkan es loli. Ketika ibunya melihat kotak es loli, dia mengerti duduk permasalahannya. Bentuk kotak es loli itu tampak sama dengan bentuk botol jus. Bagi Brian bentuk visual lebih dominan daripada bentuk verbal.

Brian mendapati jauh lebih mudah menunjukkan gambar yang tepat de­ngan bantuan sebuah buku gambar: maksudnya, “Ini yang saya inginkan.” Kesalahpahaman dapat dihindari dengan bantuan visual.

2. Semakin besar Brian, semakin banyak pilihan-pilihan yang dikembang­kannya. la semakin tahu dengan jelas apa yang dia inginkan dan apa yang tidak diinginkanya. Ibunya telah mengajarinya untuk memilih. lbunya akan bertanya, “Kamu ingin berenang atau jalan-jalan?” Brian akan menjawab, “Jalan-jalan.” Tapi ketika keinginannya dituruti dia malah mengamuk. Sebenarnya dia ingin berenang, tapi kebiasaannya kalau ditanya adalah bahwa dia akan mengulangi kata-kata terakhir yang didengarnya. Seka­rang ibunya menunjukkan sebuah gambar kolam renang dan jalan setapak untuk mewakili pergi jalan-jalan. Kamu ingin berenang atau jalan-jalan? Brian mengerti jauh lebih balk dengan foto kolam renang dan jalan setapak. Komunikasi oral/dengan mulut sulit baginya, jadi meskipun dia mengerti kata-kata, gambar berbicara lebih jelas.

3 Brian telah belajar berbicara dan hasilnya positif, tapi minatnya terhadap bahasa ucapan telah menimbulkan kesulitan baru. Bahasa juga menimbul­kan kebingungan baginya sehingga kadang-kadang ia menutup telinganya dengan tangan. Tampaknya ia ingin menjauhkan diri dari kata-kata yang menarik minatnya tetapi juga sangat sulit untuk dipahami.

Ayahnya telah memberitahu Brian bahwa mereka akan pergi ke rumah kakek dan neneknya. Brian senang pergi ke sana. Kakek dan neneknya memiliki sebuah trampolin besar. Ketika Brian datang untuk berakhir pekan anak-anak tetangga merasa senang karena punya kesempatan untuk melompat di trampolin bersamanya. Brian tidak bisa bicara de­ngan baik tapi dia dapat melompat. Dan siapa lagi yang punya trampolin besar seperti itu di rumah. Mereka benar-benar beruntung bisa bermain dengan Brian.

Brian duduk di mobil dengan senang. Ibu, ayah dan saudara laki-lakinya Peter mulai mengobrol, ibu membicarakan keinginannya untuk pergi ke pantai lagi, ayah membicarakan pekerjaan, saudara laki-lakinya mem­bicarakan sekolah. Apa yang terjadi?Apakah kita akan pergi ke pantai, ke kantor, ke sekolah, atau ke rumah kakek nenek? Brian menjadi gelisah mendengar semua kata-kata yang tidak bisa dimengertinya itu.

Sejak saat itu setiap kali pergi ke luar, mereka menggantungkan foto di dalam mobil untuk Brian dan berkata “Kita akan pergi ke rumah kakek-­nenek” sambil menunjukkan foto kakek-nenek. Lalu semuanya sudah jelas. Biarkan mereka bicara!

 

Siswa penyandang autisme dapat saja menunjukkan sebuah kartu bergambar gunting ketika sebenarnya dia ingin minum. Untuk benar-benar bisa berkomunikasi orang harus tahu tujuan komunikasi tersebut. Bagi sebagian orang, hal ini harus dipelajari.

Fungsi komunikasi yang paling penting adalah (Watson dkk., 1989):

1)    Meminta sesuatu. Fungsi ini dapat diekspresikan secara verbal atau non verbal. “tolong ambilkan pisang”, sebuah gambar pisang, sebuah pisangtiruan Orang tidak melulu membutuhkan kata-kata.

2)    Meminta perhatian. “Maukah kamu mendengarkanku?”, tepukan di bahu, bunyi bel meja.

3)    Menolak. “Tidak”, kartu berisi tulisan “terlalu sulit”, benda yang didorong menjauh… Kadang-kadang fungsi ini berkembang berlebihan dan dapat menjadi masalah bagi guru. Jika fungsi ini kurang berkembang, bahkan bisa menjadi masalah yang lebih besar bagi penyandang autisme. Beri dorongan!

Para penyandang autisme dapat mempelajari tiga fungsi di atas dengan lebih mudah daripada fungsi-fungsi berikut ini. Bahkan juga, mereka dapat juga memiliki masalah untuk mengentahui kapan dan bagaimana menggunakan fungsi-fungsi ini:

a)     Membuat komentar (tentang aspek-aspek yang terlihat di lingkungannya saat itu). “Pesawat terbang!”, menunjuk kepada gambar di meja kerja, kepada bola, kepada simbol waktu bermain

b)    Memberiinformasi (tentang hal-hal yang tidak langsung terlihat, masa lalu, masa depan — ini adalah konsep yang lebih abstrak). “apa yang akan kamu lakukan besok pagi?” Sang siswa menunjuk gambar kolam renang.

c)     Menanyakan informasi. “Kapan saya boleh pulang?” Sang siswa menunjuk gambar mobil (simbol pulang).

d)    Mengungkapkan emosi. “Auw!” (ini sakit). Sang siswa menunjuk pada luka, mengkomunikasikan emosi, tapi tdk hanya menunjukkan emosi itu saja. Anak2x penyandang autisme memiliki banyak emosi, bahkan emosi yg ekstrim. Jika mereka berbaring di sudut, menangis atau terluka, mungkin mereka akan menunjukkan emosi, tapi ini tidak sama dgn berkomunikasi dgn orang lain. Dalam kasus ini lebih baik utk melihat pada “perilaku prakomunikatif”: si anak mungkin ingin berkomunikasi, tapi tdk tahu caranya. Dia membutuhkan bantuan tapi tidak mendapatkan sumber yg tepat dlm penyelesaiannya. Kita harus berusaha mengubah perilaku prakomunikatif ini menjadi perilaku komunikasi yang nyata.

Selama sesi pelatihan praktis para partisipan kami memperhatikan bahwa Tom, seorang anak laki-laki tuli penyandang autisme, suka digelitik ketika berada di ruang bermain, tapi dia tidak punya cara untuk mengatakannya. biasanya dia berkomunikasi dengan kartu, tapi tidak ada kartu untuk “meng­gelitik”. Sebuah tujuan pengajaran yang sangat baik kemudian dikembangkan dari hal ini. Para siswa ingin mengajari Tom bagaimana cara meminta digelitik sehingga mereka mengembangkan sebuah kartu komunikasi (gambar dua tangan seperti menggerayang: menggelitik).

Selama periode waktu bermain selanjutnya Tom dikelilingi oleh se­kelompok siswa yang menunggunya menunjukkan gambar menggelitik itu pada mereka. Tapi dia tidak meminta. Apakah dia tidak mengerti maksud gambar itu? Mereka menyangka Tom mengerti; dia telah diuji. Semua orang kecewa. Apa yang salah? Kemudian seorang siswa memperhatikan kartu­kartu komunikasi lain yang tergantung pada ikat pinggang Tom. Kami berhadapan dengan sebuah contoh ekstrim masalah yang berhubungan dengan konteks. Tom telah diberi kartu menggelitik secara langsung; kartu itu tidak digantung bersama kartu-kartu lainnya di ikat pinggang Tom. Karena kartu itu tidak berada dalam konteks dengan yang lainnya, Tom tidak mengerti bahwa kartu menggelitik merupakan kartu komunikasi juga. Segera setelah kartu itu digantungkan bersama dentan kartu lainnya, dia tertawa dan segera menunjukkan kartu itu untuk mengatakan, “Gelitiki saya”.

Para penyandang autisme sama seperti penderita apasia (kehilangan kemampuan memakai atau memahami kata-kata krn penyakit otak). Dengan dispasia bawaan diketahui bahwa kesulitan dalam hal analisa makna dapat dikaitkan dengan tidak berfungsinya lobus tem­poral (sisi otak) kiri. Tiap orang mendapati bahwa normal saja memberikan informasi komunikatif kepada anak-anak penyandang dispasia dengan cara yang lebih mudah bagi mereka — yaitu secara visual. Mereka memiliki ke­sulitan beradaptasi dengan kita jadi kitalah yang harus berusaha lebih keras untuk beradaptasi dengan mereka.

Jika kita menerima bahwa penyandang autisme merupakan pelajar vi­sual, mengapa kita tidak menganggap pendekatan autisme hanyalah suatu pendekatan dengan dukungan visual ketimbang “pendidikan terstruktur”?

                  Para ahli bahasa memiliki istilah yang bagus bagi komunikasi dengan alat bantu visual: yaitu augmentative learning/komunikasi kegiatan belajar. (augmentative berarti tambahan, dukungan, peningkatan). Dengan analogi ini kita juga dapat menyebut pendidikan autisme sebagai “pendidikan tambahan yang bersifat suportif dan mendorong peningkatan (augmentative education)”.

Sistem-sistem augmentatif, sistem-sistem dukungan visual, merupakan sistem-sistem yang akan mereka gunakan sebagai alat pelepasan, untuk mengimbangi berbagai masalah dasar yang melekat pada autisme. Sebagai kesimpulan:

1. Apa yang terlalu abstrak dapat dibuat konkrit dengan gambar-gambar, sketsa, atau benda yg memiliki tingkat abstrak yang lebih rendah dan karenanya tampak lebih dekat dari apa yang terlihat secara harfiah, ini merupakan masalah dasar bagi para penyandang autisme. lni selalu benar: tingkat yg paling abstrak biasanya bukanlah yg terbaik, tingkat yg terbaik adl tingkat yg dpt mereka tangani secara mandiri.

  1. Dengan cara ini anda dapat mengkomunikasikan hal-hal yang tidak dapat mereka mengerti dengan cara lain. Bagi mereka, itulah komunikasi yang sebenarnya. Berbicara adalah perak tetapi membuat sesuatu menjadi terlihat adalah emas.
  2. Alat bantu visual mengajarkan kpd penyandang autisme utk menghadapi perubahan, membuat mereka berpikir secara lebih fleksibel. Lebih mudah utk menerima perubahan jika anda dpt mengantisi­pasinya secara visual. Seringkali masalahnya bukanlah perubahan ttp ketidakmungkinan utk mengantisipasinya.
  3. Alat-alat bantu visual meningkatkan tingkat kemandirian.
  4. Semakin mandiri mereka, semakin sedikit kegagalan yang dialami dan semakin sedikit masalah perilaku buruk yang mereka timbulkan.
  5. Semakin sedikit pola perilaku stereotip, berkat keterlibatan aktif mereka yang lebih besar, penampilan para penyandang autisme semakin mendekati normal, dan semakin besar kesempatan mereka untuk mendapatkan integrasi sosial/menyatu secara sosial.
  6. Kenyataan bahwa penyandang autisme tdk terlalu tergantung pd org lain dlm melakukan berbagai tugas memberikan keuntungan lain­nya (bbrp orang guru kadang2x sulit menerima hal ini). Mrk sering sgt tergantung kpd orang tertentu utk mendapatkan bantuan shg menjadi masalah besar ketika orang tsb pergi atau lingkungannya berubah. Jika mereka dpt meraih tingkat kemandirian yg lebih tinggi dgn alat bantu visual, maka alat bantu visual dpt dibawakan kpd mereka & perubahan lingkungan tdk akan terlalu menjadi masalah.
  7. Kadang-kadang mereka yang menyandang autisme “tidak tahu waktu”. Dengan benar-benar melihat pada langkah-langkah perantara, bukan hanya masalah konseptualisasi yang dapat dipecahkan, tapi juga masalah sekuensi — berjalan melewati berbagai langkah2x perantara dalam sebuah kerangka waktu.
  8. Dengan demikian, banyak orang dapat mengatasi sebuah masalah yang besar — kepasifan — yang sering muncul akibat kurangnya alat bantu bagi pengaturan diri sendiri (memori verbal mereka tidak berkembang dengan semestinya).
  9. Interaksi Sosial

Banyak orang tetap mengaitkan sindrom Autisme dengan satu gejala: penarikan diri, walau penarikan diri mungkin terjadi, tetapi bukan merupakan ciri pokok dalam diagnosa autisme.

Banyak anak autis tidak menarik diri lagi tetapi mereka tetap menderita “kesepian”, karena mereka memiliki kesulitan “membaca” emosi, niat & pikiran. Mereka tampaknya tidak memikirkan orang lain, tapi ini bukan merupakan masalah egoisme emosional, tapi merupakan masalah kekakuan kognitif.

Perilaku repetitif yang khas mudah ditemukan pada anak-anak autis.

Anak-anak autis memiliki kecacatan biologis dalam kemampuan mereka memahami makna dibalik apa yang mereka lihat. Mereka memiliki masalah imajinasi, mereka kesulitan untuk memahami melebihi makna harafiah. Mereka berpikir secara lebih kaku & tidak dapat memisahkan pikiran mereka dari kenyataan untuk bisa berbagi pembicaraan, interaksi sosial atau minat dengan kita secara normal.

Untuk membantunya kita harus menggunakan strategi pendidikan yang berbeda. Harus ada penelitian yang menyeluruh terhadap profil/riwayat belajar, lebih banyak menggunakan alat bantu visual, lebih banyak hubungan dalam kerja tim, lebih banyak koordinasi antara sekolah & rumah, lingkungan yang diadaptasi secara khusus.

Anak-anak autis tidak menggunakan gestur untuk mengkomunikasikan emosi mereka. Mereka memiliki perasaan tapi sulit bagi mereka mengekspresikannya, sama seperti mereka kesulitan untuk memahami hal yang sama pada diri orang lain.

Anak-anak autis juga belum mengembangkan gagasan yang memadai tentang norma-norma sosial seperti merasa malu atau merasa bersalah.

 

  1. Masalah Imajinasi

Penyandang Autisme mempelajari dunia “dengan menghafal” & dunia yang dapat diprediksi/diduga akan memberikan rasa aman kepada mereka: ketentraman. Mereka adalah perfeksionis, segalanya harus benar.

Anak autis tidak suka hal yang baru: makanan baru, pakaian baru, kegiatan baru, lingkungan baru, dll. Segala sesuatu harus diberi nama & dijelaskan fungsinya.

Tanggung jawab pendidikan akhirnya akan terbebankan kepada para org tua, anak mereka hanya sementara saja bersama para pendidik.

Kita belajar untuk hidup, bukan utk sekolah.

Penyandang autisme tidak akan mampu menghadapi dunia orang dewasa tanpa bekal kemampuan khusus, tanpa lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan mereka, pembebanan yang tepat, tanpa perwujudan visual/jadwal waktu atau dukungan visual bagi kegiatan- kegiatan mereka.

 

Comments are closed.